Gunung Manglayang yang tidak terbayang : saat ‘puncak’ku menjadi kurang membanggakan

Mau membagikan satu lagi pengalaman berharga yang boleh diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup saya. Perjalanan naik gunung, menaklukkan Manglayang bersama teman-teman Navigator 2005. Gunung Manglayang adalah salah satu gunung di Propinsi Jawa Barat terletak diantara perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Sebenarnya saya adalah seorang pencinta laut dan pantai sebagai tempat berlibur dan tidak terlalu suka suasana gunung apalagi sebelumnya saya pernah mendapatkan ‘satu_kejadian_tidak_menyenangkan’ saat mendaki gunung. Satu kejadian kecil yang cukup untuk membuat saya berjanji sendiri dalam hati tidak akan naik gunung lagi kecuali bila ada kereta gantung di puncak sana. Namun karena tidak ingin ketinggalan cerita seru dan kebersamaan bersama teman-teman yang saya sayangi selama disana. Akhirnya saya ‘rela’ membunuh kenangan ‘manis’ di pendakian sebelumnya yang dengan sukses sempat membuat saya sedikit trauma.

Gunung lawu

Perjalanan ini kalau bisa dibilang, sangat well prepared… mulai dari fisik masing-masing pendaki, sampai kebutuhan selama disana dan rangkaian acara selama  disana (eh ga tau jg ding yg ini.. kyny ga well prepared,.. haha!!)  karena sebelumnya telah dibentuk satu kepanitiaan kecil  yang ternyata tanpa disadari PJ nya adalah orang-orang yang akhirnya bisa ikut pendakian ini.

“Rega, Okta, Dwi, David, Saya, Kiki dan Ferry”

Beberapa teman satu persatu mengundurkan diri karena satu dan lain hal. Sempat ada rasa ragu dalam diri saya. Jumlah kami yang sangat kecil, 2 orang wanita, dan kami bukan pendaki gunung handal dengan jam terbang tinggi menjadi bahan pertimbangan ulang keikutsertaan saya. Apa betul keputusan awal saya untuk ikut dalam perjalanan ini adalah benar dari keinginan Dia? Apa mungkin, saat ini Tuhan juga sedang menginginkan saya untuk ikut mengundurkan diri dari perjalanan ini? Tapi pada akhirnya saya memutuskan tetap melanjutkan karena semua teman saya mendukung, dan tetap ada rasa damai saat saya memutuskan untuk tetap ikut. Saya mau belajar percaya pada teman-teman saya saat memulai perjalanan ini.

damri menuju jatinangor

Perjalanan dari kampus yang merupakan meeting point menuju kaki gunung Manglayang sangat tidak mudah. Untuk mencapainya, harus ditempuh dengan menggunakan damri menuju Jatinangor selama kurang lebih 3 jam kemudian dilanjutkan dengan naik ojeg berbahaya – meregang nyawa- berbiaya 12K perorang selama setengah jam. Setelah kami melengkapi segala peralatan, kebutuhan, dan cukup siap dan angkuh, tidak sabar menaklukan Gunung Manglayang, kami pun memulai pendakian luarbiasa ini. Perjalanan yang diperkirakan akan memakan waktu 2 jam ini pun kami buka dengan doa, mohon pimpinan Allah.

Bagi saya, pendakian gunung ini sangat tidak mudah, karena dalam perjalanan ini saya harus membawa tas yang cukup berat, maksud saya sangat berat, berbeda dengan pendakian sebelumnya yaitu saat saya dengan licongnya tidak membawa tas sama sekali (huahahha).Walaupun demikian, pendakian menjadi sangat menyenangkan karena diisi oleh canda tawa yang berasal dari celotehan spontan yang menggelikan sampai usaha nge-garing yang minta diketawain (kasiann bangetss).

Manglayang - Rega, Okta

Rega menjadi pembuka jalan yang baik karena dia sangat memperhatikan setiap persimpangan jalan yang kami lalui, memilih jalan dengan sangat hati-hati dan mencatatnya dengan lengkap. Sangat tidak mudah. Okta membantu Dwi walaupun pada awalnya terlihat sesekali meninggalkan Dwi jauh dibelakangnya, tetapi untuk waktu yang tidak terlalu lama. Dwi sering terdengar mengeluh dan ketakutan setiap melewati lintasan yang sulit, namun tetap bersemangat. Sedangkan saya tidak pernah berhasil mengungkapkan kepanikan saya, dan menjadi diam. Kondisi ini tidak membuat David dan Kiki yang ada di depan dan belakang saya merasa dipermudah karena mereka justru dituntut untuk menjadi lebih peka terhadap saya bila saya tiba-tiba jatuh dan tergelincir (maaf ya!). Ferry menjadi sweeper yang baik. Tidak mudah membunuh rasa takut saat menjadi orang di barisan yang paling belakang.

Namun ditengah perjalanan, kami menemukan kesulitan yang semakin menjadi-jadi. Malam yang gelap menjadi semakin kelam, lintasan yang licin menjadi semakin curam, rapuh (mudah longsor) dan berbahaya, padahal ini sudah melewati 2 jam, waktu yang diekspektasikan sebelumnya. Timbul pikiran-pikiran aneh dalam pikiran saya. Namun melihat teman-teman masih bisa tertawa dan bernyanyi, membuat semangat saya tumbuh lagi. Ditengah satu tebing yang curam, kami memutuskan untuk diam beristirahat sambil menunggu Okta mencoba naik melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya tidak cukup dapat dilalui Rega (bisa dibayangkan sodara-sodara betapa sulitnya lintasan ini!!). Ketakutan yang tadi sempat hilang, muncul lagi, dan justru semakin besar, saat batu-batu besar mulai longsor dan menghujani kami, bahkan menghantam lutut dwi dan hampir menghajar kepala Ferry. Dalam hati saya saya mohon kepekaan dari Allah, apa yang harus saya katakan kepada teman-teman saya? Menyemangati mereka untuk tetap memburu puncak atau merasa kalah dan membunuh impian mereka melihat sunrise karena harus turun?

Manglayang - Kiki, Ferry, David, Ruth, Dwi

Setelah berdiskusi singkat, akhirnya Kiki sang ketua pendakian gunung memutuskan untuk turun. Saya bisa membayangkan (mungkin) betapa besar kekecewaan teman-teman, karena menurut Okta, 5 meter lagi bila kita sanggup melewati lintasan itu, maka kita dapat melihat sunrise. 5 meter lagi adalah puncak! Namun dalam hati, keputusa itu membuat saya sangat bersyukur, saya merasa damai, tanpa alasan. Saya merasa lega, walaupun saya tidak tenang. Saya tidak suka dengan cara kami turun, merosot. Saat merosot saya sempat membayangkan merosot sambil terguling guling atau yang lebih parah merosot ke arah yang salah dan jatuh ke jurang. Perjalanan semakin sulit, dan akhirnya Dwi pun menangis. Semua orang termasuk saya yang ada saat itu menjadi sangat bingung. Satu hal yang bisa saya lakukan cuma menenangkan dan memeluk dwi. Kiki atas usul David pun akhirnya memimpin kami dalam doa memohon hikmat selama perjalanan. Keputusan kami untuk terus melanjutkan perjalanan mencari puncak harus benar-benar dipertimbangkan ulang karena tidak lama setelah tangisan Dwi, Rega jatuh dan keseleo. Setelah saampai di tanah yang ckp datar, kami membangun tenda, memasak, dan bercerita banyak hal mulai dari pengalaman selama perjalanan, bagaimana Allah menegur dan menguatkan kami dengan cara yang berbeda-beda hingga sharing tentang mimpi kami untuk 10 tahun kedepan. Saya merasa sangat bebas untuk bercerita dengan teman-teman, terlalu nyaman.. :) . Pada akhir pembicaraan kami diputuskan bahwa perjalanan puncak tidak dilanjutkan.

bintang-7

Saya percaya, ini bagian dari rancangan Allah. Karena bukan kebetulan kalau rencana sebelumnya yaitu mendaki burangrang harus diurungkan dan diganti dengan Gunung Maglayang, gunung yang tidak terlalu tinggi, apalagi bila dibandingkan dengan Gunung Lawu yang sebelumnya pernah saya daki bersama teman-teman yang lain. Cupu lah kalau mau dibilang. Melalui perjalanan ini kami diajarkan banyak hal yaitu tentang pengandalan atas Allah dan menjauhkan dirji dari kesombongan selain itu juga disini kami belajar untuk saling membesarkan hati. Walaupun tidak mencapai puncak Gunung Manglayang, saya tetap merasa saya merasakan puncak itu. Perasaan bahagia mengalahkan ego dan ambisi menuju puncak, kebanggaan saat saya bisa menghormati setiap keputusan yang diambil dan pembelajaran yang luar biasa bersama teman-teman saya. Itu tetap puncak saya, walaupun bagi orang lain ini tidak membanggakan sama sekali, bahkan tidak pantas untuk dibanggakan.

Setiap kali saya mengingat perjalanan ini tidak berhenti saya mengucap syukur buat anugerah Tuhan, tiap berkat yang saya dapatkan lewat mereka. Biarlah semua hal yang boleh saya lalui bersama mereka terus membawa saya untuk mengenal Pribadi Dia, Allah yang luar biasa.. :)

Advertisement